jatilan

Jathilan
Kesenian Terpinggirkan Yang Perlu Dilestarikan

KOTA JOGJA: Gelombang produk modern gaya Barat telah menggilas nilai-nilai tradisi. Itu diperparah degan sikap mental yang tak mau peduli di kalangan penguasa dan masyarakat. Salah satu yang menjadi korban adalan kesenian jathilan.

Padahal seni tradisional tersebut masih cukup banyak diminati dan mendapat perhatian dari masyarakat. Hal ini terlihat saat digelar pemetasan kesenian tradisional Jathilan dari Paguyuban Jathilan Turonggo Krido Tomo di Taman parkir Malioboro, pekan lalu.

Atraksi oleh pemain jathilan ini mampu menyedot perhatian penonton.Para pemain jathilan menggunakan berbagai atribut seperti kuda lumping dengan pakaian lengkap bak prajurit akan melakukan perang. Ketika suara gamelan ditabuh, mereka langsung memulai menari.

Dalam atraksinya, jathilan menyuguhkan hal yang berbeda dengan kesenian lainya. Jathilan Turonggo Krido Tomo ini merupakan kreasi dengan memadukan berbagai atraksi jathilan seperti jaranan, barongan dan kucingan.

Tiap atraksi mempunyai daya tarik sendiri-sendiri yang berbeda. Misalnya atraksi jaranan, yang menggunakan kuda lumping. Sedang atraksi barongan adalah menggunakan berbagai macam topeng dan atraksi kucingan adalah atraksi memakan barang-barang yang aneh seperti kaca, pisau silet dan pecahan gelas atau piring.

Saat ini, atraksi jathilan yang menakjubkan tersebut menjadi kesenian langka di Kota Jogja. Ketika atraksi jathilan digelar, masyarakat rela berdesak-desakan untuk dapat menyaksikan atraksi budaya ini. Pengguna jalan pun berhenti untuk ikut menyaksikan pertunjukan yang sudah jarang ditemui ini.

Menurut Supraptyo (52 tahun), ketua Paguyuban Jathilan Turonggo Krido Tomo, saat ditemui seusai pementasan mengungkapkan bahwa pementasan Jathilan ini adalah pementasan untuk menghibur pengunjung malioboro.

“Selain itu, pementasan ini sekaligus untuk melestarikan kesenian tradisional khususnya Jathilan,” tambahnya.s Kesenian jathilan saat ini memang sudah jarang ditemui di Kota Jogja. Menurut Supraptyo, Paguyuban Jathilan yang ia pimpin adalah satu-satunya paguyuban jathilan yang ada di KOta Jogja.

Ironis memang, di tengah kemajuan zaman, kesenian tradisional sebagai khas daerah semakin terpinggirkan. Melihat hal tersebut, Dinas pariwisata dan Kebudayaan Kota Jogja akan memberikan perhatian khusus untuk kesenian asli ini.

Hal tersebut diungkapkan Drs M Sudibyo saat ditemui Berita Jogja di Sekretariat panitia Sekaten beberapa waktu lalu. “Dinas Pariwisata dan Kebudayaan akan memberikan perhatian khusus untuk berbagai macam kesenian tradisional dengan menyuguhkan pentas kesenian tradisional yang akan pentaskan di Taman parkir Abu Bakar Ali setiap malam Minggu,” ungkap Sudibyo.

Kegiatan yang dilakukan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan tersebut merupakan kebijakan yang tepat. Oleh karena itu, harus mendapat dukungan dari berbagai pihak. Di tengah kemajuan zaman, kesenian tradisional seperti Jathilan maupun kesenian tradisional lainya perlu dilestarikan agar tak makin terpinggirkan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: