Yogyakarta

Posted in Uncategorized on Januari 29, 2010 by itadn

Ketika kita mendengar kata ini pun pasti kita akan langsung tahu, bahkan mengenl kota ini… Yupz,yogyakarta adalah kota dengan bentuk pemerintahan keraton. Yogyakarta dipimpin oleh seorang sultan yang bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono. Sebelum kita mengenal lebih jauh mengenai Yogyakarta mari kita lihat kebelakang…(wah ternyata dibelakang saya gak ada apa2..) he he… mksudnya mari kita melihat tentang sejarah berdirinya kota Yogyakarta tercinta ini.

Sejarah

Berdirinya Kota Yogyakarta berawal dari adanya Perjanjian Gianti pada Tanggal 13 Februari 1755 yang ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartingh atas nama Gubernur Jendral Jacob Mossel. Isi Perjanjian Gianti : Negara Mataram dibagi dua : Setengah masih menjadi Hak Kerajaan Surakarta, setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi. Dalam perjanjian itu pula Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja tas setengah daerah Pedalaman Kerajaan Jawa dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah.

Adapun daerah-daerah yang menjadi kekuasaannya adalah Mataram (Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, Bumigede dan ditambah daerah mancanegara yaitu; Madiun, Magetan, Cirebon, Separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Sela, Kuwu, Wonosari, Grobogan.

Setelah selesai Perjanjian Pembagian Daerah itu, Pengeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram yang ada di dalam kekuasaannya itu diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta (Yogyakarta). Ketetapan ini diumumkan pada tanggal 13 Maret 1755.

Tempat yang dipilih menjadi ibukota dan pusat pemerintahan ini ialah Hutan yang disebut Beringin, dimana telah ada sebuah desa kecil bernama Pachetokan, sedang disana terdapat suatu pesanggrahan dinamai Garjitowati, yang dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II dulu dan namanya kemudian diubah menjadi Ayodya. Setelah penetapan tersebut diatas diumumkan, Sultan Hamengku Buwono segera memerintahkan kepada rakyat membabad hutan tadi untuk didirikan Kraton.

Sebelum Kraton itu jadi, Sultan Hamengku Buwono I berkenan menempati pasanggrahan Ambarketawang daerah Gamping, yang tengah dikerjakan juga. Menempatinya pesanggrahan tersebut resminya pada tanggal 9 Oktober 1755. Dari tempat inilah beliau selalu mengawasi dan mengatur pembangunan kraton yang sedang dikerjakan.

Setahun kemudian Sultan Hamengku Buwono I berkenan memasuki Istana Baru sebagai peresmiannya. Dengan demikian berdirilah Kota Yogyakarta atau dengan nama utuhnya ialah Negari Ngayogyakarta Hadiningrat. Pesanggrahan Ambarketawang ditinggalkan oleh Sultan Hamengku Buwono untuk berpindah menetap di Kraton yang baru. Peresmian mana terjadi Tanggal 7 Oktober 1756
Kota Yogyakarta dibangun pada tahun 1755, bersamaan dengan dibangunnya Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I di Hutan Beringin, suatu kawasan diantara sungai Winongo dan sungai Code dimana lokasi tersebut nampak strategi menurut segi pertahanan keamanan pada waktu itu
Sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII menerima piagam pengangkatan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Propinsi DIY dari Presiden RI, selanjutnya pada tanggal 5 September 1945 beliau mengeluarkan amanat yang menyatakan bahwa daerah Kesultanan dan daerah Pakualaman merupakan Daerah Istimewa yang menjadi bagian dari Republik Indonesia menurut pasal 18 UUD 1945. Dan pada tanggal 30 Oktober 1945, beliau mengeluarkan amanat kedua yang menyatakan bahwa pelaksanaan Pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta akan dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII bersama-sama Badan Pekerja Komite Nasional

Meskipun Kota Yogyakarta baik yang menjadi bagian dari Kesultanan maupun yang menjadi bagian dari Pakualaman telah dapat membentuk suatu DPR Kota dan Dewan Pemerintahan Kota yang dipimpin oleh kedua Bupati Kota Kasultanan dan Pakualaman, tetapi Kota Yogyakarta belum menjadi Kota Praja atau Kota Otonom, sebab kekuasaan otonomi yang meliputi berbagai bidang pemerintahan masih tetap berada di tangan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kota Yogyakarta yang meliputi daerah Kasultanan dan Pakualaman baru menjadi Kota Praja atau Kota Otonomi dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1947, dalam pasal I menyatakan bahwa Kabupaten Kota Yogyakarta yang meliputi wilayah Kasultanan dan Pakualaman serta beberapa daerah dari Kabupaten Bantul yang sekarang menjadi Kecamatan Kotagede dan Umbulharjo ditetapkan sebagai daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Daerah tersebut dinamakan Haminte Kota Yogyakaarta.
Untuk melaksanakan otonomi tersebut Walikota pertama yang dijabat oleh Ir.Moh Enoh mengalami kesulitan karena wilayah tersebut masih merupakan bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan statusnya belum dilepas. Hal itu semakin nyata dengan adanya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, di mana Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Tingkat I dan Kotapraja Yogyakarta sebagai Tingkat II yang menjadi bagian Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selanjutnya Walikota kedua dijabat oleh Mr.Soedarisman Poerwokusumo yang kedudukannya juga sebagai Badan Pemerintah Harian serta merangkap menjadi Pimpinan Legislatif yang pada waktu itu bernama DPR-GR dengan anggota 25 orang. DPRD Kota Yogyakarta baru dibentuk pada tanggal 5 Mei 1958 dengan anggota 20 orang sebagai hasil Pemilu 1955.
Dengan kembali ke UUD 1945 melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957 diganti dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, tugas Kepala Daerah dan DPRD dipisahkan dan dibentuk Wakil Kepala Daerah dan badan Pemerintah Harian serta sebutan Kota Praja diganti Kotamadya Yogyakarta.

Atas dasar Tap MPRS Nomor XXI/MPRS/1966 dikeluarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. Berdasarkan Undang-undang tersebut, DIY merupakan Propinsi dan juga Daerah Tingkat I yang dipimpin oleh Kepala Daerah dengan sebutan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta dan Wakil Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta yang tidak terikat oleh ketentuan masa jabatan, syarat dan cara pengangkatan bagi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah lainnya, khususnya bagi beliau Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Sedangkan Kotamadya Yogyakarta merupakan daerah Tingkat II yang dipimpin oleh Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II dimana terikat oleh ketentuan masa jabatan, syarat dan cara pengangkatan bagi kepala Daerah Tingkat II seperti yang lain.

Seiring dengan bergulirnya era reformasi, tuntutan untuk menyelenggarakan pemerintahan di daerah secara otonom semakin mengemuka, maka keluarlah Undang-undang No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang mengatur kewenangan Daerah menyelenggarakan otonomi daerah secara luas,nyata dan bertanggung jawab. Sesuai UU ini maka sebutan untuk Kotamadya Dati II Yogyakarta diubah menjadi Kota Yogyakarta sedangkan untuk pemerintahannya disebut dengan Pemerintahan Kota Yogyakarta dengan Walikota Yogyakarta sebagai Kepala Daerahnya.

Nah sudah tahu kan sekarang tentang sejarah kota Yogyakarta….

Setelah itu mari kita jelajahi kotanya. Nah,untuk menjelajahi kota Yogyakarta,tidak mungkin to saya mengungkapkan satu per satu. OKI… (Oleh Karena Itu),anda bisa menjelajahi blog ini dari ujung sampai ke ujung. Tapi jangan salahkan saya sebagai si pembuat blog,jika anda tidak menemukan ujung blog ini,karena memang blog ini tidak memiliki ujung. he he he he…. Za intinya jelajahi saja blog ini. OK???

Cara-cara membuat Gudeg Khas Yogyakarta

Posted in Uncategorized on Januari 20, 2010 by itadn

Bahan : 1 bh nangka kaleng 5 butir telur 5 potong ayam 1 bungkus santan bubuk (dicairkan dengan 2 liter air)

Bumbu : 5 siung bawang putih 5 buah bawang merah 1 sdm ketumbar 5 butir kemiri 1 ons gula jawa (menurut selera) 5 sdt gula pasir 2 lbr daun salam 2 iris lengkuas Garam secukupnya

Cara membuat :

  1. Haluskan semua bumbu, kecuali daun salam, lengkuas dan gula jawa.
  2. Rebus ayam setengah mateng dan buang airnya (untuk menghilangkan lemak)
  3. Rebus telur dan kupas kulitnya.
  4. Masukkan semua bumbu, nangka, telur dan santan kedalam panci, rebus sampai berwarna merah dan air habis (sekitar 2-3 jam), sesekali aduk supaya warna merah merata.
  5. Kira-kira setengah jam sebelum air habis masukkan ayam dan aduk.
  6. Setelah air habis dan gudeg berwarna merah matikan api, pisahkan gudeg, telur dan ayam.
  7. Siap dihidangkan dengan ditambah sambal goreng krecek (kalau ada)

Ctt : jika air sudah habis tapi gudeg belum merah bisa ditambahkan air lagi, tapi sebaiknya tambahkan air panas.

kirana

Posted in Uncategorized on Januari 16, 2010 by itadn

D’COKRO Hotel

d’Cokro Hotel adalah sebuah butik hotel yang berlokasi di pusat kota Yogyakarta. Dengan menginap di d’Cokro Hotel anda dapat dengan mudah menjangkau lokasi pertemuan bisnis maupun tujuan wisata yang hendak anda kunjungi.

d’Cokoro Hotel dibangun dengan konsep bergaya Europian classic, serta desain interior modern. d’Cokro Hotel memiliki 24 kamar yang berada di 2 bangunan, dengan 12 kamar Arjuna Room, 10 kamar Yudhistira Room, dan 2 kamar Kresna Room. Dalam setiap kamar dilengkapi dengan AC, satelite TV, IDD Phone dan pada kamar-kamar tertentu dilengkapi juga dengan balkon dan teras yang nyaman. Fasilitas tambahan lainnya adalah pada setiap 6 kamar kami menyediakan lobby lounge yang dapat anda gunakan bersantai bersama keluarga, maupun menjamu rekan bisnis.

Dengan lokasi yang strategis, bangunan hotel modern, dan di tunjang dengan layanan prima dari staff kami, maka tidak salah bila d’Cokro Hotel merupakan pilihan tepat bagi anda yang hendak melakukan kegiatan bisnis, maupun berwisata bersama keluarga.

D’COKRO HOTEL & HOMESTAY
Jl. Taman Siswa 56 Yogyakarta 51151
Phone: +62 274 384137, +62 274 384138
SMS: +62 87838123414
Fax: +62 274 388179
Shortcut URL: http://www.yogyes.com/dcokro-hotel

 

hotel bineka

Posted in Uncategorized on Januari 16, 2010 by itadn

Hotel Bhinneka – Dekat Stasiun Tugu & Malioboro

Hotel Bhinneka letaknya hanya 20 meter dari stasiun tugu Yogyakarta. Meskipun dekat, tapi suasana hotel tetap terasa tenang karena dibatasi oleh dinding tembok yang tinggi dan pepohonan. Jika Anda berjalan kaki 5 menit ke selatan, maka Anda akan sampai di pusat perbelanjaan Kota Jogja, yaitu Malioboro. Dan bila Anda berjalan kaki 5 menit ke utara Anda bisa melihat Monumen Tugu Jogja dalam sorotan lampu malam yang membuatnya semakin tampak kokoh.

Hotel Bhinneka mempunya lokasi yang sangat strategis untuk beristirahat, jika Anda berlibur atau melakukan kegiatan bisnis di Jogja.

Hotel Bhinneka menyediakan 45 kamar yang selalu siap menanti kedatangan Anda. Baik keluarga maupun rombongan. Kami memberi harga khusus bagi tamu rombongan dengan harga murah.

HOTEL BHINNEKA
Jl. P. Mangkubumi 3 B Yogyakarta
Phone: +62 274 513353
Fax: +62 274 513353
Shortcut URL: http://www.yogyes.com/bhinneka

 

jatilan

Posted in Uncategorized on Januari 16, 2010 by itadn

Jathilan
Kesenian Terpinggirkan Yang Perlu Dilestarikan

KOTA JOGJA: Gelombang produk modern gaya Barat telah menggilas nilai-nilai tradisi. Itu diperparah degan sikap mental yang tak mau peduli di kalangan penguasa dan masyarakat. Salah satu yang menjadi korban adalan kesenian jathilan.

Padahal seni tradisional tersebut masih cukup banyak diminati dan mendapat perhatian dari masyarakat. Hal ini terlihat saat digelar pemetasan kesenian tradisional Jathilan dari Paguyuban Jathilan Turonggo Krido Tomo di Taman parkir Malioboro, pekan lalu.

Atraksi oleh pemain jathilan ini mampu menyedot perhatian penonton.Para pemain jathilan menggunakan berbagai atribut seperti kuda lumping dengan pakaian lengkap bak prajurit akan melakukan perang. Ketika suara gamelan ditabuh, mereka langsung memulai menari.

Dalam atraksinya, jathilan menyuguhkan hal yang berbeda dengan kesenian lainya. Jathilan Turonggo Krido Tomo ini merupakan kreasi dengan memadukan berbagai atraksi jathilan seperti jaranan, barongan dan kucingan.

Tiap atraksi mempunyai daya tarik sendiri-sendiri yang berbeda. Misalnya atraksi jaranan, yang menggunakan kuda lumping. Sedang atraksi barongan adalah menggunakan berbagai macam topeng dan atraksi kucingan adalah atraksi memakan barang-barang yang aneh seperti kaca, pisau silet dan pecahan gelas atau piring.

Saat ini, atraksi jathilan yang menakjubkan tersebut menjadi kesenian langka di Kota Jogja. Ketika atraksi jathilan digelar, masyarakat rela berdesak-desakan untuk dapat menyaksikan atraksi budaya ini. Pengguna jalan pun berhenti untuk ikut menyaksikan pertunjukan yang sudah jarang ditemui ini.

Menurut Supraptyo (52 tahun), ketua Paguyuban Jathilan Turonggo Krido Tomo, saat ditemui seusai pementasan mengungkapkan bahwa pementasan Jathilan ini adalah pementasan untuk menghibur pengunjung malioboro.

“Selain itu, pementasan ini sekaligus untuk melestarikan kesenian tradisional khususnya Jathilan,” tambahnya.s Kesenian jathilan saat ini memang sudah jarang ditemui di Kota Jogja. Menurut Supraptyo, Paguyuban Jathilan yang ia pimpin adalah satu-satunya paguyuban jathilan yang ada di KOta Jogja.

Ironis memang, di tengah kemajuan zaman, kesenian tradisional sebagai khas daerah semakin terpinggirkan. Melihat hal tersebut, Dinas pariwisata dan Kebudayaan Kota Jogja akan memberikan perhatian khusus untuk kesenian asli ini.

Hal tersebut diungkapkan Drs M Sudibyo saat ditemui Berita Jogja di Sekretariat panitia Sekaten beberapa waktu lalu. “Dinas Pariwisata dan Kebudayaan akan memberikan perhatian khusus untuk berbagai macam kesenian tradisional dengan menyuguhkan pentas kesenian tradisional yang akan pentaskan di Taman parkir Abu Bakar Ali setiap malam Minggu,” ungkap Sudibyo.

Kegiatan yang dilakukan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan tersebut merupakan kebijakan yang tepat. Oleh karena itu, harus mendapat dukungan dari berbagai pihak. Di tengah kemajuan zaman, kesenian tradisional seperti Jathilan maupun kesenian tradisional lainya perlu dilestarikan agar tak makin terpinggirkan.

 

angguk

Posted in Uncategorized on Januari 16, 2010 by itadn

Wayang Kulit

Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada jaman Hindu Jawa. Pertunjukan Kesenian wayang adalah merupakan sisa-sisa upacara keagamaan orang Jawa yaitu sisa-sisa dari kepercayaan animisme dan dynamisme.

Menurut Kitab Centini, tentang asal-usul wayang Purwa disebutkan bahwa kesenian wayang, mula-mula sekali diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang / Kediri. Sektar abad ke 10 Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Ceritera Ramayana sangat menarik perhatiannya karena Jayabaya termasuk penyembah Dewa Wisnu yang setia, bahkan oleh masyarakat dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Batara Wisnu. Figur tokoh yang digambarkan untuk pertama kali adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu.

 

angguk

Posted in Uncategorized on Januari 16, 2010 by itadn

Seni angguk

Seni angguk adalah sejenis tarian tradisional yang dimainkan oleh masyarakat yang dulunya berfungsi sebagai media dakwah, namun sekarang sudah mulai bergeser perannya menjadi media hiburan yang banyak digunakan untuk menyambut tamu-tamu luar daerah. Seni satu ini dulunya sarat akan makna kehidupan yang mendalam, yang membuat orang ingat akan kematian. Namun kini angguk sudah disulap menjadi tontonan vulgar yang membikin berahi hidup meletup-letup dan lupa akan kematian, begitu cair. Penarinya didandani dengan busana minim kain dan gerakannya dibuat erotis, begitulah gambaran

kesenian itu sekarang. Gambaran angguk yang ditanggap masyarakat ya yang seperti itu, angguk yang orisinil sudah lama pergi dan hanya mementaskan diri di dekat kuburan, sarat akan nilai mistik memang, namun jika ditilik dari tujuannya itu adalah hal wajar. Tak ubahnya seni angguk yang mencair, seni adaptasi dari luar juga tak kalah cair, malah saking cairnya tidak dapat terbendung lagi. Budaya dance yang kian ‘hip’ di kalangan anak sekolahan, budaya cheerleader yang menjadi momok menggembirakan bagi kaum adam dalam setiap pementasannya, serta masih banyak lagi rupanya.

Kecintaan insan pada kesenian vulgar, terutama di Indonesia memang tak patut dipertanyakan lagi, begitu antusias. Birahi hidup mengeluap dan masalah lupa dalam sekejap, mungkin itu salah satu alasannya yang membuat mereka ingin lari sekejap dari dunia yang riil, yang dalam kenyataannya begitu berat, begitu berat dalam menahan nafsu.

 

 
 
 
 
 

uny

Posted in Uncategorized on Januari 16, 2010 by itadn

Universitas Negeri Yogyakarta
(UNY)

Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) merupakan salah satu unit lembaga di bawah Universitas Negeri Yogyakarta yang melaksanakan tugas pengabdian sebagai salah satu misi Tridharma Perguruan Tinggi. LPM UNY sudah ada sejak lembaga ini masih bernama IKIP Yogyakarta dan kemudian diperkuat dengan surat keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia nomor SK Mendiknas No: 003/0/2001 tentang Statuta Universitas Negeri Yogyakarta. Dalam melaksanakan tugas pengabdian, LPM UNY menjalin kerjasama dengan instansi/lembaga, baik lembaga pemerintah maupun swasta atas dasar kemitraan yang saling menunjang dan menguntungkan. Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu tugas perguruan tinggi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat yang meliputi berbagai bidang kehidupan dengan memanfaatkan, mengembangkan, dan menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks) sebagai upaya memberikan sumbangan demi kemajuan masyarakat. Penyelengga­raan pengabdian kepada masyarakat disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki baik yang menyangkut sumber daya insani maupun pendanaan. Untuk melaksanakan berbagai tugas pengabdian tersebut, LPM UNY menyusun dan mengembangkan program-program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sasaran. Program kerja LPM terkait dengan visi, misi, kebijakan arah pengembangan, dan program kerja universitas (UNY). Visi dan misi UNY adalah mampu menghasilkan insan Indonesia yang cendekia, mandiri, dan bernurani, maka hal itu menjadi tugas semua lembaga dan unit yang ada di UNY. Tujuan UNY dirumuskan dalam dasakarya, sedang strategi pencapaiannya diupayakan lewat saptaguna (kebersamaan, pemberdayaan, pembudayaan, profesionalisme, pengendalian, keberlanjutan, dan kewirausahaan). Dalam kiprahnya LPM UNY merupakan salah satu lembaga yang langsung berhubungan dengan berbagai komponen masyarakat dan peran itu dapat secara strategis untuk mem­bangun dan meningkatkan citra UNY. Dengan kata lain, LPM berkewa­jiban membangun citra ke dalam (internal) dan keluar (eksternal) ke masyarakat yang lebih luas.  

stin

Posted in Uncategorized on Januari 16, 2010 by itadn

Sekolah Tinggi Teknologi Nasional

Sekolah Tinggi Teknologi Nasional STTNAS Yogyakarta semula bernama Akademi Teknologi Nasional Yogyakarta, didirikan pada tanggal 25 Februari 1979 oleh Yayasan Pendidikan Teknologi Nasional Yogyakarta, sebagai Monumen Hidup Penerusan Perjuangan Pengabdian mantan TP/TNI Be XVII di bidang pendidikan.

Perubahan nama dan juga sekaligus perubahan jenjang pendidikan dari Akademik ke Sekolah Tinggi disetujui oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dengan Surat Keputusan Nomor : 0790a/0/1986 tanggal : 03 November 1986 dan 0800/0/1986 tanggal 16 November 1986.

Dengan demikian kalau semula Akademi Teknologi Nasional Yogyakarta mempunyai jenjang pendidikan Program Sarjana Muda dan kemudian menjadi Program Diploma III (D-III) maka setelah menjadi Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta kini mempunyai jenjang Pendidikan Strata 1 (S-1) dan Diploma III (D-III) dengan jurusan/program studi Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Geologi, Teknik Kimia, Teknik Planologi, dan Teknik Pertambangan.

Kontak Alamat dan Nomer Telepon Sekolah Tinggi Teknologi Nasional STTNAS Yogyakarta Jl. Babarsari, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta 55281 Telepon : (0274) 485390 – 486986 Fax : (0274) 487249

 

UGM

Posted in Uncategorized on Januari 16, 2010 by itadn

Universitas Gajah Mada
(UGM)

Universitas Gadjah Mada (bahasa Inggris: Gajah Mada University) merupakan universitas negeri tertua di Indonesia, terletak di Yogyakarta. Didirikan pada 19 Desember 1949, Gadjah Mada merupakan universitas pertama yang didirikan setelah Indonesia merdeka. Pada saat didirikan, Universitas Gadjah Mada hanya memiliki enam fakultas, sekarang memiliki 18 Fakultas dan satu Sekolah Pascasarjana (dahulu bernama Program Pascasarjana), dan lebih dari 100 Program Studi untuk S-2,S-3, dan Spesialis. Universitas Gadjah Mada berlokasi di Kampus Bulaksumur Yogyakarta. Sebagian besar fakultas dalam lingkungan Universitas Gadjah Mada terdiri atas beberapa jurusan/bagian dan atau program studi. Kegiatan Universitas Gadjah Mada dituangkan dalam bentuk Tri Dharma Perguruan Tinggi yang terdiri atas Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.